Sabtu, 10 November 2018

Ramalannya Banyak yang Terjadi, Siapakah Sebenarnya Sosok Joyoboyo?

Sri Aji Joyoboyo merupakan salah satu raja di Kerajaan Kediri yang berkuasa dari tahun 1130 sampai 1157. Pada masa kepemimpinan Raja Joyoboyo dunia sastra Jawa Kuno berada pada puncak keemasan. Beliau memerintahkan Empu Panuluh serta Empu Sedah menyadur cerita Mahabarata Sansekerta ke dalam kakawin Jawa kuno Bharatayudha.


Raja Joyoboyo juga meminta Empu Panuluh mengubah kakawin Gatotkacasraya serta Hariwamsa. Namun anehnya dalam sejumlah karya sastra yang ditulis pada masa itu, tidak disebutkan jejak kepemimpinan Joyoboyo. Beberapa sumber pustaka juga menyebutkan jika Ramalan Joyoboyo baru muncul sekitar tahun 1618 saat Sunan Giri Perapan menulis Kitab Musarar (Asrar).

Dari Kitab Musarar inilah Pangeran Wijil I dari Kadilangu menulis Kitab Jangka Jayabaya pertama yang dibuat pada tahun 1741 sampai 1743 Masehi. Dan dari isi kitab tersebut yang berisi ramalan atau gambaran masa depan, tak sedikit orang yang mempercayainya.

Tidak cuma masyarakat biasa, tokoh - tokoh bangsa pun ada juga yang mempercayai dengan ramalan Joyoboyo. Mereka menganggap Joyoboyo merupakan sosok yang "weruh sakdurunge winarah" atau yang dalam bahasa Indonesia berarti "melihat sebelum sebuah peristiwa terjadi". Karena sebelum membuat ramalan, Joyoboyo telah melakukan meditasi yang cukup kuat untuk mendapat pandangan masa depan.


Tak sedikit ramalan Joyoboyo yang telah terjadi, diantaranya ramalan di masa depan akan marak seks bebas, laki - laki dan perempuan akan hilang rasa hormat dan rasa malunya, dan juga ramalan tentang munculnya pesawat terbang serta kereta api. Yang mana hal tersebut sudah di tuliskan oleh Joyoboyo sejak jaman dahulu.

Tak heran jika tak sedikit orang yang mempercayai Ramalan Joyoboyo, sehingga sering kali setiap ada kegaduhan di Tanah Air, banyak masyarakat yang mengait - ngaitkan dengan ramalan Joyoboyo.

Bahkan, Presiden Indonesia yang pertama yakni Presiden pernah mengutip ramalan Joyoboyo saat menyampaikan pledoi di hadapan Pengadilan Belanda yang dilaksanakan di Bandung 2 Desember 1930. Saat itu Presiden Soekarno yang menjadi Pemimpin Redaksi Fikiran Ra'yat dituduh makar terhadap pemerintah Kolonial Belanda.


Dalam pledoinya tersebut, Presiden Soekarno menyampaikan jika saat itu Indonesia tengah menunggu datangnya 'Ratu Adil' seperti yang diramalkan oleh Joyoboyo. Setelah mendengar ucapan Presiden Soekarno tersebut, rakyat Indonesia semakin semangat untuk mengusir penjajah dan menunggu datangnya ratu adil

sumber.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog