Minggu, 28 Oktober 2018

Melihat Tempat Ibadah Karyawan Freeport yang Ribuan Meter dalam Perut Bumi

ambang emas Freeport yang ada di timur Indonesia memang menyimpan banyak sekali keunikan. Mungkin kamu pernah tau jika ada kawasan tempat tinggal elit yang bernama Kota Kuala Kencana yang luar biasa modern-nya. Padahal, kebanyakan wilayah Papua sendiri masih sangat tertinggal dan dikelilingi oleh wilayah hutan.



Nah, ternyata tak cuma itu saja, tempat ibadah yang ada di kawasan pertambangan ini pun terbilang unik karena berada jauh di dalam perut bumi. Daripada penasaran, kita lihat saja bagaimana penampakan dari tempat ibadah para karyawan tersebut.

Masjid Baabul Munawwar dengan kedalaman 1.760
Perusahaan besar pasti punya fasilitas ibadah yang memadai untuk memenuhi kebutuhan spiritual para karyawannya.

 Begitu pula yang dilakukan oleh PT Freeport Indonesia dengan masjid Baabul Munawwar-nya. Masjid ini diresmikan pada bulan Juni 2016 lalu –hasil rancangan dari arsitek Alexander Mone (lulusan BINUS) dan struktur pengerjaan oleh Andrew Parhusip ( Institut Teknologi Bandung). Baabul Munawwar bisa menampung sekitar 250 jamaah.

Berlokasi di daerah Tembagapura, Timika, Papua, Baabul Munawwar terbilang unik karena berada 1.760 di dalam perut bumi. Tempat yang ada di dalam perut bumi ini sendiri dimaksudkan untuk mempermudah para karyawan muslim yang ingin beribadah.

 Bisa dilihat, area masjid ini berbentuk lorong lengkap dengan hiasan dinding dan lampu-lampu gantung di sekelilingnya. Masjid ini juga dilengkapi dengan alat yang bisa menyedot udara kotor ke luar ruangan.

Gereja Oikumene Soteria




Sama seperti masjid Baabul Munawwar, untuk umat beragama Kristen dan Nasrani ada gereja Gereja Oikumene Soteria yang tak kalah megah. Gereja tersebut letaknya berdampingan dengan masjid, hanya dipisahkan oleh sebuah ruang yang digunakan untuk berwudhu (Islam) atau mensucikan diri (nasrani) sebelum mereka beribadah, seperti dilansir dari kompas.com.

Ruangan gereja ini juga sangat mirip dengan masjid. Di bagian paling depan ada tanda salib, mimbar sebagai tempat memberi ceramah kepada para jemaat, serta lampu-lampu sebagai penerang di bagian dinding atas gereja. Sementara di bagian atas tampak ada sambungan-sambungan pipa.
Masjid Al-A’raaf





Selain dua tempat ibadah di atas, ada satu lagi masjid yang letaknya berkebalikan, yaitu di elevasi tertinggi 3.730 meter di atas permukaan laut (area Grasberg), masjid ini diberi nama Al-A’raaf. Tiga rumah ibadah ini tentu saja sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan ibadah kurang lebih 32 ribu karyawan Freeport. Atas capaian ketinggian dan kedalaman letak tiga rumah ibadah tersebut, maka mereka mendapatkan piagam catatan dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) sebagai masjid terdalam di Indonesia bahkan dunia.



Penghargaan ini diterima langsung oleh direktur Freeport Indonesia, Chappy Hakim pada 2017 lalu di Jakarta. Ia berharap keberadaan tempat-tempat ibadah ini bisa menjadi fasilitas yang memudahkan para karyawan, serta letaknya yang berdampingan bertujuan untuk menciptakan kerukunan antarsesama pekerja.

Sumber

Mengenal Sosok Nyai Saritem, Kembang Desa Pendiri Lokalisasi PSK Saritem di Bandung!

Saritem, begitulah orang-orang menyebut sebuah tempat prostitusi legendaris di kota Bandung yang berlokasi di daerah stasiun kereta, di sebuah gang antara Jalan Astana Anyar dan Gardujati, yang saat ini tepat bersebrangan dengan pintu keluar Mall Paskal 23. Lokalisasi ini didirikan pada zaman kolonial Belanda.



Dulu, para wanita penghibur berjejer di setiap rumah bordil dengan menggunakan kebaya khas pribumi. Tempat lokalisasi ini sudah berdiri sejak tahun 1838, dan kini sudah berusia 180 tahun.

Berdirinya tempat pelacuran ini berawal dari kisah seorang kembang desa penjual jamu keliling bernama asli Neng Sari Iteung. Gadis ini terkenal memiliki paras luar biasa cantik, siapapun yang meliriknya niscaya akan terpesona.

Tak terkecuali para bangsawan Belanda. Sangking tergila-gilanya, Neng Sari Iteung pun dijadikan gundik oleh seorang bangsawan Belanda. Sejak saat itu, gadis desa ini menjelma menjadi ‘Nyonya Belanda’. Namanya pun berubah menjadi 'Nyai Saritem'.




Dalam 'Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda' karya Reggie Bay, kata 'Nyai' sendiri berasal dari bahasa Bali. Penggunaan kata tersebut berawal ketika perempuan Bali mulai banyak dijadikan budak dan gundik oleh orang-orang Eropa di wilayah pendudukan VOC pada abad ke-17. Gundik adalah istilah sebutan untuk istri tak resmi/perempuan simpanan, atau perempuan yang difungsikan sebagai pelampiasan nafsu birahi.

Beberapa tahun kemudian, seorang pejabat Belanda meminta Nyai Saritem mencarikan wanita yang bisa diajak kencan untuk para serdadu Belanda yang masih lajang.

 Kebetulan, pada saat itu daerah Gardujati memang merupakan markas militer Belanda. Nyai Saritem pun diberikan fasilitas sebuah rumah yang cukup besar untuk menampung para wanita nanti.

Tak disangka-sangka, ternyata wanita yang berminat untuk 'menemani' orang-orang Belanda itu terkumpul sangat banyak. Mereka datang dari berbagai daerah berbeda di Jawa Barat, seperti Sumedang, Cianjur, Garut, Cirebon, serta Indramayu.

 Yang awalnya hanya bertujuan untuk menghibur para pemuda Belanda, lambat laun hal ini berubah menjadi bisnis yang menguntungkan.




Seiring berjalannya waktu, nama Nyai Saritem pun semakin terkenal di Kota Kembang ini, pria-pria hidung belang mulai ramai mendatangi tempat prostitusi milik Nyai Saritem.

 Tidak hanya pemuda dan orang Belanda, prajurit yang sudah lanjut usia dan orang-orang pribumi pun kerap berkunjung untuk mencicipi 'jajanan' Nyai Saritem ini.

Melihat bisnisnya berkembang pesat dalam waktu singkat, teman-teman Nyai Saritem akhirnya memutuskan untuk mengikuti jejaknya menjadi gundik warga Belanda dan juga membuka usaha serupa, mereka ini rata-rata wanita bekas binaan Nyai Saritem yang dulu sempat menjadi PSK di rumah bordilnya. Semenjak saat itu masyarakat sekitar mengenal lokasi itu dengan sebutan 'Saritem'.

Sumber

Sebelum Meninggal, Bintang Film Ayat-Ayat Cinta Ini Sempat Lakukan Hal Ini

Kabar duka datang dari dunia perfilman tanah air. Aktor senior Rudy Wowor meninggal pada hari Jumat (05/10/2018) kemarin di kediamannya di daerah Depok, Jawa Barat.



Aktor yang punya nama asli Rudolf Canesius Soemolang Wowor ini meninggal dunia akibat sakit kanker prostat yang dideritanya. Jenazah Rudy Wowor kemudian dikebumikan di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, Sabtu (06/10/2018).



Kepergian Rudy Wowor sendiri menyisakan kesedihan dan rasa tak percaya di hati sang anak, Michael Wowor. Pasalnya beberapa hari sebelum meninggal, sang ayah masih terlihat ceria.

"Papa belakangan ini masih suka bercanda masih suka guyon. Makanya saya kalau tanda-tanda gitu enggak ada," ujar Michael Wowor seusai proses pemakaman.

Namun dikabarkan sehari sebelum meninggal, kesehatan Rudy Wowor memang mengalami penurunan drastis. Ia pun kemudian dilarikan ke RS.

"Masuk RS sudah dari kemarin. Gara-gara Papa (Rudy Wowor) sempat muntah-muntah tapi muntahnya udah ada flek-flek darah gitu sih. Baru tadi Papa dikabarin masuk ICU, sudah enggak sadar," tutur Michael Wowor menambahkan.



Sang sahabat, Roy Karyadi yang juga aktor senior juga ikut mengungkapkan keadaan almarhum. "Sebenarnya stadiumnya sudah telat. Waktu itu dia cerita sama saya didiagnosa dari rumah sakit Cibubur terus dibawa ke luar negeri dicoba diusahakan lagi tapi juga enggak ketolong."



Kisah lainnya diungkap anak kedua Rudy Wowor yang menetap di Prancis, Siti Madinah. Ia bercerita jika dua hari sebelum meninggal, bintang film Ayat-Ayat Cinta itu sempat melakukan video call dan berpamitan padanya.

"Kami baru saja berpamitan dua hari lalu lewat videocall. Lalu terputus karena almarhum sedang dalam keadaan sakit. Sedih, pilu, sudah lewat tahapnya," ujar Siti Madinah.

Turut berduka cita, semoga almarhum diberi tempat terbaik di sisi Tuhan dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, aamiin.

Sumber